Sombong Elegan

Ketika kita melihat kisah lblis saat diperintah Allah untuk sujud kepada
Adam, lalu iblis enggan bersujud, mungkin yang terpikir oleh kita lblis itu sombong kepada Adam.

Para ulama menjelaskan salah satu faedah yang begitu mendalam dari kisah tersebut;

Sebenernya, Iblis itu sombongnya kepada Allah tapi dengan cara yang
Elegan, iblis ga mau menampakkan kesombongannya langsung kepada Allah, tapi lewat Adam.

lblis ga mau sujud kepada Adam padahal yang merintah untuk bersujud itu Allah. lblis merasa sombong, iblis merasa Lebih Pintar dari Allah.

lblis mengatakan “saya ini terbuat dari api sedangkan adam dari tanah, saya lebih baik dari dia, ngapain saya sujud kepada dia Ya Allah?”

Padahal yang lebih mengetahui tentang penciptaan itu adalah Allah, maka itulah iblis dilaknat oleh Allah sebagai penghuni neraka yang kekal.

Jadi kalo manusia disuruh sujud menghadap ka’bah atas perintah Allah 5x sehari dan masih banyak alasan, atau pernah punya perasaan “Ya Allah kita ini sibuk kerja, sibuk sekolah, dll masa harus 5x sujud dalam sehari?” bisa jadi secara ga sadar kita terjangkit sifatnya iblis yang membuat kita merasa lebih pintar dari Sang Pencipta. Astaghfirullah..

Ketika kita semua diperintah menutup aurat baik pria maupun wanita dengan segala batasnya, tapi kita masih punya perasaan “ah nanti panas Ya Allah, nanti ga nyaman, nanti ga fleksibel, nanti susah kerja, dsb, dsb, dsb'”
jangan-jangan kita…
Naudzubillahi min dzalik.

Naek Gunung Parang via Ferrata

Berawal dari searching #opentrip di Instagram karena kurang piknik, akhirnya nemu EO buat naek gunung Parang di Purwakarta. Akhirnya ngajakin temen-temen buat nanjak bareng.

Kalo biasanya naek gunung itu dengan jalan biasa, ini naek gunungnya beda, kita naek lewat tangga besi (ferrata) yang udah disediain pengelola. Kita bakal dipakein alat safety sama abang-abangnya.

Dari basecamp sampe ke basecamp lagi kurang lebih waktunya 3 jam dengan kecepatan santai dan banyak dengan berfoto ria hhehe

Kita waktu itu ngambil paket yang mendaki hingga ketinggian 300 meter.

Seru!

Dari kanan : me, kang eko, ka moa, ka amah, uni ola, surti, fiki, tiwi

~14 Oktober~

Pendakian ke Gunung Artapela

Orang Bandung tapi baru tau sekarang-sekarang, ada gunung yang dikenal dengan nama Artapela hhehe

Lagi-lagi karena searching #opentrip di Instagram, nemu deh komunitas @tripforcare yang ngadain pendakian kesana. Mereka basecampnya di sekitaran Tangerang.

Ngikut dari Bandung, kami ketemuan di leuwi panjang. Baru dari leuwi panjang kita cusss ke basecamp Artapela, di daerah Pacet, Banjaran. Masuknya ini daerah Kabupaten Bandung (kalogasalah) Kalo mau search di gmaps, ketik aja basecamp artapela.

Pendakian dari awal hingga puncak bisa memakan waktu sekitar 4 jam. Selama pendakian kita disuguhi pemandangan perkebunan yang menjulang di perbukitan. Hampir ga ada jalur yang tertutup seperti di hutan, semuanya kebuka luas.

Ini memang area perkebunan sih kayaknya. Kami sering juga berpapasan dengan para petaninya. Kami bawa carrier mereka pun bawa “carrier” nya. Hebatnya bisa jadi mereka tiap hari mikul beban bulak-balik naik-turun gunung, kita yang baru sekali naek aja udah ngos-ngosan hhehe luar biasa memang pak petani

Karena cuaca yang kurang memungkinkan, kami beristirahat dan membuat tenda sebelum sampai puncak, baru esok di pagi harinya kami ke puncak. ! image

Karena sudah masuk musim hujan, pemandangan sebagiannya dipenuhi kabut saat kami akan turun ke basecamp. Foto dibawah ini sekitar pukul 10 lho 🙂

Intinya, jalur menuju puncak Artapela ini bisa buat latihan pernafasan 🙂

Bolehlah kapan-kapan kita kesini lagi, buat liat golden sunrise 😀

~30 September – 1 Oktober~

Pendakian Gunung Prau

Kali ini maennya solo hiking ke Gunung Prau, Wonosobo, Jawa Tengah. Ingin nyoba aja naek gunung, bikin tenda dan lain-lainnya sendiri. Tapi sebenernya karena kawan-kawan yang biasa naek gunung bareng udah pada pernah ke Prau sih, jadi memutuskan untuk sendiri 🙂

Nekat ya? iya sih dikit hhaha, tapi dibalik kenekatan tentu ada persiapan dan tentu sudah berusaha memperhitungkan segala sesuatunya. Salah satu kenapa milih gunung Prau, karena sudah ngubek informasi tentang jalurnya yang cukup jelas dan ga terlalu panjang, juga transportasi yang mudah hhehe. Jadi insya Allah cocok buat pemula kayak saya yang masih fakir tentang ilmu ke-gunung-an.

Gunung Prau memiliki panorama yang indah. Terlebih jika naik dari basecamp Patak Banteng, saat sudah naik sekitar satu jam kita bakal disuguhi pemandangan telaga yang bisa jadi penyemangat dibalik terjalnya trek 😀

Trek awal gunung ini perkebunan, setelah masuk perhutanan, treknya agak berdebu, jadi siapkan saja masker atau buff sebagai penutup hidung dan mulut.
Dua jam mendaki dengan sedikit istirahat, sudah bisa sampai di area campnya yang luas, cocok buat liat sunrise. Tinggal pilih spot yang nyaman saja.

Dan berikut itinerary perjalanan, sapa tau bisa dijadiin referensi skripsi trip anda 🙂
*note: jamnya ga tepat 100%, karena agak-agak lupa juga, tapi kurang lebih segitu lah.. 😀

Hari 1 (Rabu)
* 18.30 – 05.00 : Perjalanan dari Bandung ( Cicaheum ) – Wonosobo (terminal Mendolo). Menggunakan armada bus Sinar Jaya. Karena ini masuk liburan panjang (bagi yang ambil cuti), maka saya beli tiket beberapa hari sebelum keberangkatan #cariaman 🙂 [ IDR 70K ]

Hari 2 (Kamis)
* 05.00 – 05.30 : Sampai di terminal, shalat, istirahat, sambil nunggu bis mengangkut sesama pendaki.

* 05.30 – 07.00 : Perjalanan Wonosobo – Basecamp Patak Banteng. Naek bus ¾, biasanya di terminal sudah ada yang nunggu untuk ngangkut ke arah dieng [IDR 20K]

* 06.45 – 08.15 : Sampai di sekitaran basecamp, Sarapan, Istirahat, Beli perlengkapan logistik. Karena ga mahir masak, maka bawa bekal makanan mateng dari bawah biar sampe atas tinggal leup! 😀

* 08.15 – 08.30 : Registrasi pendakian. Dikasih gambar peta dan bayar registrasi [10K]

* 08.30 – 10.40 : Pendakian dimulai. Treknya jelas dan nanjak terus, siapkan masker atau buff, karena jalannya berdebu. Pemandangan dibelakang trek yang terjal bisa jadi penyemangat 😀

* 10.40 – 16.30 : Sampai area camp, nyari spot buat nenda, istirahat, shalat, makan, tidur siang

* 16.30 – 18.00 : Jalan-jalan sekitaran area camp. Untuk hunting sunset kudu naik bukit dulu sedikit

* 18.00 – 20.00 : Shalat, Makan, Santai, hunting milky way. Alhamdulillah cuacanya cerah banget.

* 20.00 – 04.00 : Istirahat. Pakaian tebal sangat perlu disini, suhunya dingin pake banget ditambah angin yang kenceng.

Hari 3 (Jum’at)
* 04.00 – 06.00 : Shalat, ngemil-ngemil sambil nunggu sunrise. Ternyata kabut tebal, jadi ga bisa liat golden sunrise 😀

* 06.00 – 07.30 : Foto-foto keliling area camp nyari spot view yang bagus. Setelah kabut berlalu, Masya Allah pemandangan paginya luar biasa, Alhamdulillah dikasih cuaca cerah, langit biru, “negeri di atas awan” dan view gunung Sindoro & Sumbing yang megah di depan mata

Bersama pendaki dari Bandung juga. Dari kanan : Abu, Tio, Robi, Me

* 07.30 – 08.30 : Packing beres-beres peralatan.

* 08.30 – 09.30 : Turun ke basecamp Patak Banteng. Lebih enak kalau pake trekking pole, sebagai pegangan hidup saat menuruni trek yang terjal.

* 09.30 – 11.30 : Sampai basecamp, Istirahat sebentar, Mandi [IDR 4K] dan persiapan Jumat’an

* 11.30 – 12.30 : Shalat Jum’at

* 12.30 – 13.00 : Makan. Disekitaran basecamp banyak warung-warung menyediakan nasi dan lauk pauk [IDR 9K]

* 13.00 – 13.30 : Nunggu bis Wonosobo mengangkut pendaki lain, biasanya ada bus yang sudah menunggu di jalan raya dekat basecamp.

* 13.30 – 14.30 : Perjalanan ke terminal Wonosobo [IDR 20K]

* 14.30 – 18.30 : Pesan tiket bus Wonosobo – Bandung. Kali ini memilih armada bus Budiman (yang tujuan akhirnya Cimahi). Keberangkatannya jam 6 sore, jadi bisa istirahat, santai dan makan-makan dulu atau cari oleh-oleh. [IDR 95K]

* 18.30 – 04.00 : Perjalanan ke Bandung

Hari 4 (Sabtu)
* 04.00 : Alhamdulillah sampai di Bandung
***

[20-23 September 2017]

karena diri ini bukan malaikat yang selalu taat.
masih manusia yang banyak cela dan dosa.
tak perlu susah mencari kesalahan dan kekurangan pada diri ini.
tak dicaripun pasti banyak engkau dapati.
saling doakan agar bisa memperbaiki diri,
agar dimudahkan menjemput hidayah hingga masuk ke hati

Ikhlas itu enam huruf, tapi belajarnya seumur hidup

Posting

Keingetan kata-kata dari pa ustadx,

“Setan itu ga pernah diem di tempat yang udah jelas-jelas buruk”

Kalau boleh saya analogiin, jangan dikira posting yang baik itu gampang, coba aja posting suatu hal yang baik-baik di sosmed, suka ada rasa ga enakan, takut dibilang sok alim, sok baik, dll. Kenapa? Karena setan selalu ngebisikin hingga akhirnya kita ga jadi ngeposting hal yang baik

Padahal boleh jadi apa yang kita posting walau kadang hal sederhana bisa jadi menjadi jembatan orang lain untuk berubah jadi lebih baik atas izin Allah dan tentu yang namanya setan ga mau itu terjadi 👿

Mungkin aja Allah tuh nitipin followers ke kita biar diajak dalam kebaikan sebagai ladang pahala, karena amal kita belum tentu cukup buat pulang, kalo followers udah segitu banyak, bahkan sampe ada yang ber-K K belum juga mau berbagi kebaikan, butuh berapa followers lagi biar mau jadi baik? (pertanyaan khas ust AH 😁)

Tapi beda kalo kita posting yang mubah-mubah, pasti biasa-biasa aja, sebab setan ga terlalu semangat godain kayaknya. Karena hal mubah kalo diposting ga nambah pahala ga nambah dosa, setan pun agak males ngegodanya, bener ga tan? 😂

Sedangkan kalo posting hal-hal buruk, setan malah semangat dan nge-like banget postingan kita tuh, postingan mencaci maki, membuat gambar ga bener, debat yang ga dibenarkan, menjatuhkan kehormatan orang dll yang ada setan malah bersorak riang gembira.. 😈👏

Pekerjaan Rumah

Dalam kitab Adabul Mufrad karya Imam Al-Bukhari , ada hadits yang bagi saya menarik yaitu No 538 – 541,  dari keempat hadits tersebut satu diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan ketiga lainnya oleh Ahmad. Dan ini sering dibahas di buku-buku tentang keseharian Nabi Muhammad ﷺ

Kurang lebih isi dari keempat hadits tersebut yaitu, ketika orang-orang menanyakan kepada ibu kita Aisyah r.a, bagaimanakah Nabi ﷺ ketika berada di rumah? maka dijawabnya: Rasulullah ﷺ itu seperti lelaki biasa pada umumnya, beliau menambal sandal, menambal pakaian, menjahit pakaian, mencuci pakaian, memerah susu kambing sendiri.

Baca hadits kayak gini tuh bikin “baper” ke Rasulullah ﷺ , cuma ngebayangin aja sekelas Rasulullah ﷺ aja masih ngerjain pekerjaannya sendiri.

Dari sependek-pendeknya pengetahuan saya, baca hadits diatas ada beberapa pelajaran yang bisa diambil buat diri sendiri:

1. Sekelas Nabi, Rasul ﷺ yang mulia, pemimpin negara dan juga sekaligus guru bagi sahabat aja masih mau ngerjain pekerjaan rumah, lantas siapa kita kalo ga mau ngerjain pekerjaan rumah

2. Ini nih menariknya, orang-orang itu menanyakannya kepada ibunda Aisyah r.a (istri Nabi ﷺ ), berarti saat itu walaupun ada istri, Rasul ﷺ tetep ngerjain sendiri, Masya Allah… Ini jadi PR banget nih buat para calon suami 😀 Rasul ﷺ yang ada istrinya aja masih nyuci pakaian sendiri, lah ini yang jombl* masih aja males-malesan nyuci pakaian #nunjukDiriSendiri :)))

3. Hadits diatas mungkin bisa juga jadi booster, kalo lagi males-malesan nyuci, selagi ada waktu dan tenaga, niatin aja buat ngikutin Rasul ﷺ , mudah-mudahan nyucinya dapet pahala, bener ga sih? 😀

Boleh jadi keperihan saat menjombl* itu sebagai pengingat ketika suatu saat nanti sudah berpasangan halal, agar lebih mensyukuri pasangan yang sudah Allah berikan untuk diperlakukan sebaik-baiknya. Walau kadang tak mudah.

Surat Cinta

Gimana perasaan kita kalau kita dapet surat cinta? Pasti bahagia ya.. (emang udah pernah, Ril? 😂)

Hal pertama yang dilakukan pasti kita simpen baik-baik surat itu, bahkan dibukanya pun pelan-pelan. Saking kita ga mau surat itu sampe rusak.

Setelah itu dibaca pelan-pelan, huruf demi huruf, ga mau sampe ada yang terlewat satu hurufpun. Lantas kita akan berusaha memahami, menghayati tiap tulisan dari sang pengirim.

Langkah selanjutnya setelah kita paham dan menghayati, kita bakal ngelakuin yang diminta dalam surat itu oleh sang pengirim, saking cintanya.

Selesai dibaca pun kadang kita ga puas, kita baca lagi berulang-ulang, simpen lagi, baca lagi, simpen lagi, seolah ga pernah bosen. Kenapa? saking cintanya.

Itu padahal surat cinta dari makhluk, bagaimana perlakuan kita dengan surat cinta dari Sang Khalik, Dia yang mengirimkan 114 surat cinta untuk kita, melalui perantara Nabi mulia Muhammad ﷺ

Sudahkah menghayati dan mengamalkannya, Ril? Sudah sebahagia seperti dapet surat cinta dari makhluk, Ril?

Gimana perasaan seseorang yang cinta sama kita, ngirim surat cinta ke kita, jangankan diamalkan, dibaca aja engga sama kita, kalau dibacapun dihayati cuma sedikit, dipahami setengah-setengah? Kayaknya yang ngirim surat bakal berpaling dari kita.

Kalau kita dipalingkan oleh makhluk mungkin kita bisa mencari yang lain. Namun yang paling celaka adalah kalau Allah sudah berpaling dari kita –Naudzubillahi min dzalik– lantas mau mencari siapa? Sedangkan Allah lah satu-satunya Rabbul ‘aalamiin, yang ngasih segalanya dalam hidup ini.

layout by themehaus